NW
Nofri Wahyudi Teman Bertumbuh

Bahaya Jeratan Utang dan Etika Menyelesaikannya

N
Ustadz Nofri Wahyudi
📅 04 January 2026 🌙 15 Rajab 1447 H 👁️ 11 Baca
Bahaya Jeratan Utang dan Etika Menyelesaikannya
Innalhamdalillahi nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruhu. Wa na’udzubillahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyi’aati a’maalina. Man yahdihillahu falaa mudhillalah wa man yudhlilhu falaa haadiyalah. Asyhadu an laa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.



Yaa ayyuhalladziina aamanuttaqullaha haqqa tuqaatihi wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun.



Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.

Tiada wasiat yang paling agung untuk terus diulang-ulang di mimbar ini selain wasiat ketakwaan. Mari kita wujudkan takwa itu dengan sebenar-benarnya amal, baik dalam urusan ibadah mahdhah kepada Allah, maupun dalam muamalah kita sesama manusia.



Hadirin rahimakumullah,

Pada kesempatan khutbah kali ini, khatib ingin mengangkat sebuah fenomena yang diam-diam telah menghancurkan kebahagiaan banyak rumah tangga, memutuskan tali silaturahmi, dan merusak akidah. Fenomena tersebut adalah bermudah-mudahan dalam berutang, terutama utang dengan sistem ribawi yang kini sangat mudah diakses melalui telepon pintar kita.



Dalam ajaran Islam, utang-piutang (Al-Qardh) pada dasarnya adalah akad tolong-menolong (ta'awun) untuk membantu saudara yang sedang berada dalam keadaan darurat. Namun hari ini, esensi itu bergeser. Berutang bukan lagi karena lapar atau kebutuhan mendesak, melainkan karena hasrat konsumtif, mengejar tren, dan demi sebuah status sosial di mata manusia.



Rasulullah SAW sangat berhati-hati dalam urusan utang. Dalam sebuah riwayat yang masyhur, beliau pernah menolak menyalatkan jenazah seorang sahabat yang masih meninggalkan utang sebanyak dua dinar, sampai ada sahabat lain yang bersedia menanggung utang tersebut. Mengapa demikian? Karena urusan hak manusia tidak akan selesai begitu saja dengan kematian. Ruh seorang mukmin akan terkatung-katung, bergantung pada utangnya sampai utang tersebut dilunasi.



Bagi saudaraku yang saat ini sedang memikul beban utang, berniatlah dengan tekad yang bulat untuk melunasinya. Allah SWT berjanji akan menolong hamba-Nya yang sungguh-sungguh ingin melunasi utangnya. Kurangi gaya hidup yang berlebihan. Tahanlah selera. Jika kita mampu menahan lapar berpuasa di bulan Ramadhan, mengapa kita tidak mampu menahan hawa nafsu berbelanja barang yang tidak kita butuhkan?



Dan bagi kita yang berpiutang (yang meminjamkan), Islam juga mengajarkan etika yang sangat mulia. Jika orang yang berutang kepada kita benar-benar dalam keadaan pailit dan tidak mampu membayar, maka memberikan tenggat waktu adalah sebuah kebaikan. Bahkan, jika kita merelakannya (mensedekahkannya), maka itu jauh lebih baik dan akan menjadi naungan bagi kita di Padang Mahsyar kelak.



Mari kita lindungi keluarga kita dari jeratan utang, terutama pinjaman online ilegal maupun transaksi ribawi yang seolah menawarkan solusi instan padahal menjerumuskan kita ke dalam jurang kebinasaan. Syukuri apa yang ada di genggaman, hiduplah dengan rasa qana'ah (merasa cukup), karena kekayaan sejati bukanlah banyaknya harta, melainkan kayanya hati.



Baarakallahu lii wa lakum fil qur'aanil 'azhiim, wa nafa'anii wa iyyakum bimaa fiihi minal aayaati wa dzikril hakiim. Aquulu qawlii haadzaa wa astaghfirullaha lii wa lakum, fastaghfiruuhu innahu huwal ghafuurur rahiim.







KHUTBAH KEDUA



Alhamdulillahi ‘alaa ihsaanihi wa syukru lahu ‘alaa taufiiqihi wa imtinaanihi. Asyhadu an laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariikalah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu. Allahumma shalli ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aalihi wa ash-haabihi wa sallim tasliiman katsiiraa.



Yaa ayyuhalladziina aamanuttaqullaha wal tanzhur nafsun maa qaddamat lighad, wattaqullah, innallaha khabiirun bimaa ta'maluun. Innallaha wa malaa’ikatahu yushalluuna ‘alan nabi, yaa ayyuhalladziina aamanuu shalluu ‘alaihi wa sallimuu tasliimaa.



Allahummaghfir lil mukminiina wal mukminaat, wal muslimiina wal muslimaat, al-ahyaa'i minhum wal amwaat. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa para guru kami.



Ya Allah, Ya Razzaq, bukakanlah pintu-pintu rezeki yang halal dan berkah untuk kami. Ya Allah, lunaskanlah utang-utang kami, jauhkanlah kami dari kefakiran dan kekafiran. Karuniakanlah kepada kami hati yang qana'ah, yang selalu bersyukur atas setiap nikmat yang Engkau tetapkan.



Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa 'adzaaban naar.



'Ibaadallah, innallaha ya'muru bil 'adli wal ihsaan wa iitaa'i dzil qurbaa wa yanhaa 'anil fahsyaa'i wal munkari wal baghyi, ya'izhukum la'allakum tadzakkaruun. Aqimish shalaah.

Bagikan Kebaikan Ini

Diskusi Hikmah 0

Belum ada diskusi.

i

Maklumat

Konten disusun untuk dakwah. Jika menemukan gambar atau teks yang kurang berkenan, mohon gunakan fitur Lapor agar dapat kami perbaiki. Jazakumullah khairan.