Innalhamdalillahi nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruhu wa na’udzubillahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyi’aati a’maalina. Man yahdihillahu falaa mudhillalah wa man yudhlilhu falaa haadiyalah. Asyhadu an laa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.
Yaa ayyuhalladziina aamanuttaqullaha haqqa tuqaatihi wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun.
Hadirin jamaah shalat Jum’at yang dirahmati Allah SWT.
Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada hadirin sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas takwa kita kepada Allah SWT. Takwa dalam arti yang sesungguhnya: menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik saat kita berada di dalam masjid yang suci ini, maupun saat kita bertebaran di muka bumi mencari karunia-Nya di pasar, di kantor, dan di tempat usaha kita.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Seringkali kita menyempitkan makna ibadah hanya pada rukun Islam yang lima. Kita merasa telah menjadi muslim yang kaffah ketika dahi kita menghitam karena sujud, dan tenggorokan kita kering karena puasa sunnah. Namun, kita sering lupa bahwa interaksi sosial kita, terutama urusan harta dan muamalah, adalah bagian tak terpisahkan dari timbangan amal di yaumil hisab kelak.
Rasulullah SAW bersabda, "Akan datang suatu zaman pada umat manusia, di mana seseorang tidak lagi peduli dari mana ia mendapatkan harta, apakah dari jalan yang halal ataukah dari jalan yang haram." (HR. Bukhari).
Hadis ini seolah sedang menceritakan realita kita hari ini. Atas nama persaingan ekonomi, gengsi, dan tuntutan gaya hidup, banyak orang rela menabrak rambu-rambu syariat. Transaksi yang mengandung unsur gharar (penipuan/ketidakjelasan), riba yang mencekik saudara sendiri, hingga memanipulasi timbangan dan takaran seakan menjadi kewajaran dalam berbisnis.
Hadirin rahimakumullah,
Ketahuilah bahwa setiap suap nasi yang masuk ke dalam perut anak istri kita dari harta yang syubhat, apalagi haram, akan menjadi hijab (penghalang) terkabulnya doa-doa kita. Bagaimana mungkin Allah akan merespons rintihan doa di sepertiga malam, jika darah yang mengalir di tubuh kita tumbuh dari hasil menzalimi orang lain?
Oleh karena itu, mari kita kembali mempelajari fikih muamalah. Sebelum menandatangani sebuah kontrak bisnis, sebelum mengajukan pinjaman, dan sebelum menjual sebuah produk, bertanyalah pada hati nurani dan literatur syariat: "Apakah akad ini diridhai oleh Allah?" Jangan sampai keuntungan duniawi yang hanya sesaat ini, kita tukar dengan kemurkaan Allah di akhirat yang abadi.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita, menjauhkan kita dari harta yang haram, dan memberkahi setiap tetes keringat yang kita keluarkan untuk menafkahi keluarga tercinta.
Baarakallahu lii wa lakum fil qur'aanil 'azhiim, wa nafa'anii wa iyyakum bimaa fiihi minal aayaati wa dzikril hakiim. Aquulu qawlii haadzaa wa astaghfirullaha lii wa lakum wa lisaa'iril muslimiina minal khathaa'yaa wadz dzunuub, fastaghfiruuhu innahu huwal ghafuurur rahiim.
—
KHUTBAH KEDUA
Alhamdulillahi ‘alaa ihsaanihi wa syukru lahu ‘alaa taufiiqihi wa imtinaanihi. Wa asyhadu an laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariikalahu ta’zhiiman lisya’nihi, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu ad-daa’ii ilaa ridhwaanihi. Allahumma shalli ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aalihi wa ash-haabihi wa sallim tasliiman katsiiraa.
Ammaa ba’du. Fayaa ayyuhannas, ittaqullaha fiimaa amara, wantahuu ‘ammaa nahaa ‘anhu wa hazara. Ketahuilah bahwa Allah menyuruh kalian bershalawat kepada Nabi-Nya. Innallaha wa malaa’ikatahu yushalluuna ‘alan nabi, yaa ayyuhalladziina aamanuu shalluu ‘alaihi wa sallimuu tasliimaa.
Allahummaghfir lil mukminiina wal mukminaat, wal muslimiina wal muslimaat, al-ahyaa'i minhum wal amwaat, innaka samii'un qariibun mujiibud da'waat wa yaa qaadhiyal haajaat.
Ya Allah, sucikanlah harta kami dari debu-debu riba dan syubhat. Cukupkanlah kami dengan rezeki-Mu yang halal agar kami tidak tergiur dengan yang haram. Jadikanlah kami hamba-Mu yang jujur dalam berniaga dan bermuamalah.
Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa 'adzaaban naar.
'Ibaadallah, innallaha ya'muru bil 'adli wal ihsaan wa iitaa'i dzil qurbaa wa yanhaa 'anil fahsyaa'i wal munkari wal baghyi, ya'izhukum la'allakum tadzakkaruun. Fadzkurullaha yadzkurkum, wasykuuruuhu 'alaa ni'amihi yazidkum, waladzikrullahi akbar. Aqimish shalaah.
Membangun Keberkahan Melalui Fikih Muamalah dan Rezeki Halal
N
Ustadz Nofri Wahyudi
📅 03 January 2026
|
🌙 14 Rajab 1447 H
|
👁️ 13 Baca
Bagikan Kebaikan Ini
Diskusi Hikmah 0
Belum ada diskusi.