NW
Nofri Wahyudi Teman Bertumbuh

Bahaya Lisan dan Jemari di Era Fitnah Akhir Zaman

N
Ustadz Nofri Wahyudi
📅 27 November 2020 🌙 11 Rabiul Akhir 1442 H 👁️ 11 Baca
Bahaya Lisan dan Jemari di Era Fitnah Akhir Zaman
Innalhamdalillahi nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruhu. Wa na’udzubillahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyi’aati a’maalina. Man yahdihillahu falaa mudhillalah wa man yudhlilhu falaa haadiyalah. Asyhadu an laa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.



Yaa ayyuhalladziina aamanuttaqullaha haqqa tuqaatihi wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun. Yaa ayyuhalladziina aamanuttaqullaha wa quuluu qaulan sadiidaa. Yuslih lakum a'maalakum wa yaghfir lakum dzunuubakum.



Hadirin jamaah shalat Jum’at yang dirahmati Allah SWT.

Puji syukur ke hadirat Allah yang senantiasa menutupi aib-aib kita, padahal jika dosa-dosa itu memiliki bau, niscaya tidak ada seorang pun yang mau duduk berdekatan dengan kita. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW. Khatib berwasiat, mari kita jaga dan rawat ketakwaan kita, sebagai sebaik-baik perisai dari azab Allah SWT.



Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Di antara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada manusia adalah nikmat berbicara (lisan). Namun, anggota tubuh yang paling kecil ini jugalah yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam dasar api neraka. Mu'adz bin Jabal pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, "Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa karena apa yang kita ucapkan?" Rasulullah menjawab, "Celaka engkau wahai Mu'adz! Bukankah manusia diseret wajahnya ke dalam neraka tidak lain karena hasil dari lisan-lisan mereka?" (HR. Tirmidzi).



Di era modern ini, lisan kita telah bermetamorfosis menjadi jempol yang menari di atas layar ponsel. Mengetik sebuah komentar hujatan, menyebarkan aib orang lain (ghibah), atau membagikan berita palsu (hoaks) kini bisa dilakukan dalam hitungan detik. Dan mengerikannya, kerusakan yang ditimbulkan oleh ketikan jari jauh lebih luas dan lebih cepat menyebar ke seluruh penjuru dunia dibandingkan ucapan langsung.



Hadirin yang dimuliakan Allah,

Agama Islam sangat menjaga kehormatan (muru'ah) seorang muslim. Merendahkan, memfitnah, atau mencela seorang muslim lainnya adalah sebuah kefasikan. Allah berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 11: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka..."



Ketika kita ikut-ikutan berkomentar kasar di media sosial terhadap seseorang yang sedang tertimpa masalah, hakikatnya kita sedang mentransfer pahala puasa, shalat, dan sedekah kita kepada orang tersebut. Jika pahala kita habis, maka dosa orang yang kita caci maki itu akan ditimpakan kepada kita, sehingga kita menjadi manusia yang muflis (bangkrut) di hari kiamat.



Jamaah sekalian,

Mari kita puasakan lisan dan jemari kita dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Peganglah prinsip emas dari Baginda Nabi: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." Biasakan budaya tabayyun (klarifikasi) sebelum membagikan sebuah informasi. Lebih baik kita dianggap tidak *update* atau tidak kekinian, daripada kita harus memikul dosa jariyah dari fitnah yang terus bergulir di dunia maya.



Baarakallahu lii wa lakum fil qur'aanil 'azhiim, wa nafa'anii wa iyyakum bimaa fiihi minal aayaati wa dzikril hakiim. Aquulu qawlii haadzaa wa astaghfirullaha lii wa lakum wa lisaa'iril muslimiina minal khathaa'yaa wadz dzunuub, fastaghfiruuhu innahu huwal ghafuurur rahiim.







KHUTBAH KEDUA



Alhamdulillahi ‘alaa ihsaanihi wa syukru lahu ‘alaa taufiiqihi wa imtinaanihi. Wa asyhadu an laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariikalahu ta’zhiiman lisya’nihi, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu ad-daa’ii ilaa ridhwaanihi. Allahumma shalli ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aalihi wa ash-haabihi wa sallim tasliiman katsiiraa.



Ammaa ba’du. Fayaa ayyuhannas, ittaqullaha fiimaa amara, wantahuu ‘ammaa nahaa ‘anhu wa hazara. Innallaha wa malaa’ikatahu yushalluuna ‘alan nabi, yaa ayyuhalladziina aamanuu shalluu ‘alaihi wa sallimuu tasliimaa.



Allahummaghfir lil mukminiina wal mukminaat, wal muslimiina wal muslimaat, al-ahyaa'i minhum wal amwaat. Ya Allah, ampunilah dosa kami, tutuplah aib kami, dan maafkanlah segala kelalaian lisan kami.



Ya Allah, bimbinglah hati dan lisan kami untuk senantiasa basah dengan dzikir kepada-Mu. Jagalah lisan dan ketikan kami dari menyakiti saudara kami, dari menyebarkan fitnah, dan dari ghibah yang menghancurkan pahala kami. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang membawa kedamaian di mana pun kami berada.



Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa 'adzaaban naar. Aqimish shalaah.

Bagikan Kebaikan Ini

Diskusi Hikmah 0

Belum ada diskusi.

i

Maklumat

Konten disusun untuk dakwah. Jika menemukan gambar atau teks yang kurang berkenan, mohon gunakan fitur Lapor agar dapat kami perbaiki. Jazakumullah khairan.