Innalhamdalillahi nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruhu. Wa na’udzubillahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyi’aati a’maalina. Man yahdihillahu falaa mudhillalah wa man yudhlilhu falaa haadiyalah. Asyhadu an laa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.
Yaa ayyuhalladziina aamanuttaqullaha haqqa tuqaatihi wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun. Kullu nafsin dzaa'iqatul maut, wa innamaa tuwaffauna ujuurakum yaumal qiyaamah. Faman zuhziha 'anin naari wa udkhilal jannata faqad faaz. Wa mal hayaatud dunyaa illaa mataa'ul ghuruur.
Hadirin jamaah shalat Jum’at yang dirahmati Allah SWT.
Berdirinya khatib di mimbar ini, tiada lain dan tiada bukan adalah untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Wasiat yang paling utama adalah wasiat takwa. Mari kita tingkatkan rasa takut dan tunduk kita kepada Allah, sebelum datang suatu hari di mana penyesalan tidak lagi berguna, dan harta benda serta anak keturunan tidak lagi mampu memberikan pertolongan.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ada satu realitas mutlak dalam kehidupan yang pasti akan dialami oleh setiap manusia, tanpa memandang pangkat, jabatan, kekayaan, atau usianya. Realitas itu adalah Kematian. Allah SWT menegaskan dalam Surah Ali 'Imran ayat 185: "Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati." Kematian adalah gerbang yang memisahkan kita dari kefanaan dunia menuju keabadian akhirat.
Namun, betapa lucunya sikap kita sebagai manusia. Kita meyakini kematian itu pasti, namun perilaku keseharian kita sering kali seolah-olah kita akan hidup selamanya di dunia. Kita menumpuk harta dengan rakus, kita mendirikan bangunan yang megah, dan kita sibuk bersaing memperebutkan kursi jabatan, seakan kematian masih sangat jauh. Padahal, bisa jadi kain kafan yang akan membungkus tubuh kita saat ini sedang ditenun di pasar, tanpa kita menyadarinya.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk memperbanyak *dzikrul maut* (mengingat kematian). Beliau bersabda: "Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan dunia (yakni kematian)." (HR. Tirmidzi). Mengingat kematian bukanlah bertujuan untuk membuat kita menjadi pesimis, malas bekerja, atau mengurung diri di dalam masjid. Sebaliknya, mengingat kematian adalah obat paling mujarab untuk melunakkan hati yang keras, meredam ambisi duniawi yang berlebihan, dan membangkitkan semangat (himmah) untuk beramal saleh.
Ketika seseorang menyadari bahwa napasnya bisa berhenti kapan saja atas kehendak Allah, ia tidak akan menunda-nunda bertaubat. Ia akan segera meminta maaf kepada saudaranya yang pernah dizalimi. Ia akan segera melunasi utang-utangnya. Ia tidak akan berani memakan harta anak yatim, melakukan korupsi, atau menerima uang suap, karena ia tahu persis bahwa semua itu akan dihisab di pengadilan yang sangat adil di Padang Mahsyar kelak.
Jamaah sekalian,
Mari kita persiapkan bekal terbaik kita. Bekal itu bukanlah tumpukan emas atau deposito, melainkan amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang senantiasa mendoakan kita ketika raga kita telah terbujur kaku di dalam gelapnya liang lahat. Jangan biarkan waktu terus berlalu sementara amal kebaikan kita masih sangat fakir. Jadikanlah setiap shalat yang kita dirikan, seolah-olah itu adalah shalat perpisahan (shalat wada') sebelum kita dijemput oleh Malaikat Maut.
Baarakallahu lii wa lakum fil qur'aanil 'azhiim, wa nafa'anii wa iyyakum bimaa fiihi minal aayaati wa dzikril hakiim. Aquulu qawlii haadzaa wa astaghfirullaha lii wa lakum wa lisaa'iril muslimiina minal khathaa'yaa wadz dzunuub, fastaghfiruuhu innahu huwal ghafuurur rahiim.
—
KHUTBAH KEDUA
Alhamdulillahi ‘alaa ihsaanihi wa syukru lahu ‘alaa taufiiqihi wa imtinaanihi. Wa asyhadu an laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariikalahu ta’zhiiman lisya’nihi, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu ad-daa’ii ilaa ridhwaanihi. Allahumma shalli ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aalihi wa ash-haabihi wa sallim tasliiman katsiiraa.
Ammaa ba’du. Fayaa ayyuhannas, ittaqullaha fiimaa amara, wantahuu ‘ammaa nahaa ‘anhu wa hazara. Innallaha wa malaa’ikatahu yushalluuna ‘alan nabi, yaa ayyuhalladziina aamanuu shalluu ‘alaihi wa sallimuu tasliimaa.
Allahummaghfir lil mukminiina wal mukminaat, wal muslimiina wal muslimaat, al-ahyaa'i minhum wal amwaat. Ya Allah, ampunilah dosa kami, dosa ibu bapak kami, dan dosa saudara-saudara kami yang telah mendahului kami ke alam barzakh.
Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umur kami pada penghujungnya, sebaik-baik amal kami pada penutupnya, dan sebaik-baik hari kami adalah hari saat kami berjumpa dengan-Mu. Wafatkanlah kami dalam keadaan husnul khatimah, dalam keadaan iman dan Islam, dan jauhkanlah kami dari suul khatimah. Lapangkanlah kelak kubur kami, dan jadikanlah ia sebagai taman dari taman-taman surga-Mu.
Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa 'adzaaban naar. Aqimish shalaah.
Dzikrul Maut: Mengingat Kematian Sebagai Penawar Kelalaian Hati
N
Ustadz Nofri Wahyudi
📅 13 November 2020
|
🌙 27 Rabiul Awal 1442 H
|
👁️ 10 Baca
Bagikan Kebaikan Ini
Diskusi Hikmah 0
Belum ada diskusi.