NW
Nofri Wahyudi Teman Bertumbuh

Menjaga Kehormatan dan Lisan di Era Media Sosial

N
Ustadz Nofri Wahyudi
📅 06 January 2026 🌙 17 Rajab 1447 H 👁️ 14 Baca
Menjaga Kehormatan dan Lisan di Era Media Sosial
Innalhamdalillahi nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruhu. Wa na’udzubillahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyi’aati a’maalina. Man yahdihillahu falaa mudhillalah wa man yudhlilhu falaa haadiyalah. Asyhadu an laa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.



Yaa ayyuhalladziina aamanuttaqullaha haqqa tuqaatihi wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun. Yaa ayyuhalladziina aamanuttaqullaha wa quuluu qaulan sadiidaa. Yuslih lakum a'maalakum wa yaghfir lakum dzunuubakum, wa man yuthi'illaha wa rasuulahu faqad faaza fauzan 'azhiimaa.



Hadirin jamaah shalat Jum’at yang dirahmati Allah SWT.

Di hari sayyidul ayyam ini, khatib senantiasa mengajak diri khatib dan jamaah sekalian untuk memperbaharui komitmen ketakwaan kita. Takwa yang membentengi kita dari murka Allah, takwa yang mengontrol setiap detak jantung, pandangan mata, serta setiap kata yang keluar dari lisan dan ketikan jari-jari kita.



Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Di zaman dahulu, lisan diibaratkan seperti pedang. Jika salah mengayunkan, ia akan melukai raga. Namun hari ini, lisan telah berevolusi menjadi ujung jari yang menari di atas layar ponsel cerdas. Sekali tekan, sebuah kebohongan, fitnah, dan ghibah bisa tersebar ke jutaan orang dalam hitungan detik. Senjata ini jauh lebih mematikan karena jejak digitalnya hampir mustahil untuk dihapus.



Rasulullah SAW memberikan peringatan keras yang sangat relevan dengan zaman kita saat ini. Beliau bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim). Pertanyaannya, berapa sering kita menahan diri untuk diam saat emosi terpancing oleh suatu unggahan di media sosial? Berapa sering kita terpancing ikut berkomentar mencaci maki seseorang yang bahkan tidak kita kenal secara pribadi?



Hadirin yang dimuliakan Allah,

Ada dua penyakit kronis akhir zaman yang menghancurkan pahala puasa, shalat, dan sedekah kita. Yang pertama adalah Ghibah, yaitu membicarakan keburukan saudara kita. Allah mengibaratkan orang yang suka ghibah seperti memakan daging bangkai saudaranya sendiri yang sudah mati. Betapa menjijikkannya perbuatan tersebut. Jika keburukan yang kita bicarakan di media sosial itu benar, maka itu adalah ghibah. Namun jika itu salah, maka itu berubah menjadi Fitnah, dan fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.



Penyakit yang kedua adalah hilangnya budaya Tabayyun (klarifikasi). Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 6: "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."



Hari ini, umat Islam sangat mudah dipecah belah hanya karena sepotong video yang dipotong dari konteks aslinya, atau tangkapan layar (screenshot) yang dibumbui judul provokatif. Jangan biarkan jempol kita menjadi panitia yang menyeret kita ke neraka. Berpikirlah seribu kali sebelum membagikan (share) sebuah informasi. Tanyakan pada diri sendiri: Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah menyebarkan ini diridhai oleh Allah?



Jamaah sekalian,

Kelak di hari Kiamat, mulut kita akan dikunci rapat. Tangan kita akan berbicara dan kaki kita akan memberikan kesaksian. Jari-jemari kitalah yang akan ditanya oleh Allah: "Berapa banyak hoaks yang kau sebarkan? Berapa banyak kehormatan saudara muslimmu yang kau jatuhkan dengan komentar kebencianmu?"



Mari kita gunakan media sosial untuk merajut ukhuwah, menyebarkan ilmu, dan berdakwah dengan hikmah. Jadikanlah akun-akun media sosial kita sebagai ladang amal jariyah, yang ketika kita mati nanti, orang-orang masih mengambil manfaat dan kebaikan dari apa yang pernah kita tuliskan.



Baarakallahu lii wa lakum fil qur'aanil 'azhiim, wa nafa'anii wa iyyakum bimaa fiihi minal aayaati wa dzikril hakiim. Aquulu qawlii haadzaa wa astaghfirullaha lii wa lakum, fastaghfiruuhu innahu huwal ghafuurur rahiim.







KHUTBAH KEDUA



Alhamdulillahi ‘alaa ihsaanihi wa syukru lahu ‘alaa taufiiqihi wa imtinaanihi. Wa asyhadu an laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariikalahu ta’zhiiman lisya’nihi, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu ad-daa’ii ilaa ridhwaanihi. Allahumma shalli ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aalihi wa ash-haabihi wa sallim tasliiman katsiiraa.



Ammaa ba’du. Fayaa ayyuhannas, ittaqullaha fiimaa amara, wantahuu ‘ammaa nahaa ‘anhu wa hazara. Innallaha wa malaa’ikatahu yushalluuna ‘alan nabi, yaa ayyuhalladziina aamanuu shalluu ‘alaihi wa sallimuu tasliimaa.



Allahumma shalli ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali muhammadin, kamaa shallaita ‘alaa ibraahiima wa ‘alaa aali ibraahiima, wa baarik ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali muhammadin, kamaa baarakta ‘alaa ibraahiima wa ‘alaa aali ibraahiima fil ‘aalamiina innaka hamiidun majiid.



Allahummaghfir lil mukminiina wal mukminaat, wal muslimiina wal muslimaat, al-ahyaa'i minhum wal amwaat, innaka samii'un qariibun mujiibud da'waat. Ya Allah, ampunilah kehilafan kami, jagalah lisan kami dari mengucapkan hal-hal yang menyakiti sesama, dan lindungilah jari-jemari kami dari menyebarkan keburukan.



Ya Allah, satukanlah hati umat Islam, jauhkanlah kami dari fitnah, perpecahan, dan adu domba. Tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu adalah benar, dan berikanlah kekuatan untuk mengikutinya. Tunjukkanlah bahwa yang batil itu adalah batil, dan berikanlah kekuatan untuk menjauhinya.



Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa 'adzaaban naar.



'Ibaadallah, innallaha ya'muru bil 'adli wal ihsaan wa iitaa'i dzil qurbaa wa yanhaa 'anil fahsyaa'i wal munkari wal baghyi, ya'izhukum la'allakum tadzakkaruun. Aqimish shalaah.

Bagikan Kebaikan Ini

Diskusi Hikmah 0

Belum ada diskusi.

i

Maklumat

Konten disusun untuk dakwah. Jika menemukan gambar atau teks yang kurang berkenan, mohon gunakan fitur Lapor agar dapat kami perbaiki. Jazakumullah khairan.