NW
Nofri Wahyudi Teman Bertumbuh

Tanggung Jawab Pemimpin Keluarga dalam Menjaga Tauhid Generasi

N
Ustadz Nofri Wahyudi
📅 07 January 2026 🌙 18 Rajab 1447 H 👁️ 51 Baca
Tanggung Jawab Pemimpin Keluarga dalam Menjaga Tauhid Generasi
Innalhamdalillahi nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruhu. Wa na’udzubillahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyi’aati a’maalina. Man yahdihillahu falaa mudhillalah wa man yudhlilhu falaa haadiyalah. Asyhadu an laa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.



Yaa ayyuhalladziina aamanuttaqullaha haqqa tuqaatihi wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun. Yaa ayyuhalladziina aamanuu quu anfusakum wa ahaliikum naaraa.



Hadirin jamaah shalat Jum’at yang dirahmati Allah SWT.

Setiap Jum'at kita berkumpul di sini, mendengarkan lantunan ayat dan nasihat untuk mengisi kembali baterai keimanan kita. Oleh karena itu, khatib mengingatkan kembali pentingnya takwa, yakni menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sebagai bekal terbaik untuk kembali menghadap-Nya.



Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Dalam khutbah kali ini, mari kita renungkan sebuah ayat yang sangat menggetarkan hati, khususnya bagi kita para laki-laki, para suami, dan para ayah. Allah SWT berfirman dalam Surah At-Tahrim ayat 6: "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu..."



Ayat ini bukan sekadar imbauan, melainkan instruksi langit yang sangat tegas. Tanggung jawab terbesar seorang ayah bukanlah sekadar menyediakan rumah yang mewah, makanan yang bergizi, atau menyekolahkan anak di institusi termahal. Tanggung jawab paling asasi adalah memastikan bahwa istri dan anak-anaknya memiliki akidah yang lurus, mengenal Tuhannya, dan selamat dari siksa api neraka.



Hari ini, kita menghadapi krisis keteladanan di dalam rumah tangga. Banyak ayah yang hadir secara fisik di rumah, namun absen secara mental dan spiritual (fatherless). Sang ayah sibuk mencari harta sejak fajar hingga larut malam, merasa tugasnya sudah selesai saat menyerahkan uang belanja bulanan. Sementara pendidikan agama, akhlak, dan karakter anak diserahkan sepenuhnya kepada pembantu, sekolah, dan layar gawai (gadget).



Hadirin yang dimuliakan Allah,

Mari kita bercermin pada Luqman Al-Hakim, seorang ayah yang namanya diabadikan dalam Al-Qur'an karena keindahan cara mendidik anaknya. Nasihat pertama yang ditanamkan Luqman bukanlah cara mencari uang, melainkan: "Yaa bunayya laa tusyrik billah, inasy-syirka lazulmun 'azhiim." (Hai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar).



Sudahkah kita menanamkan tauhid yang sekuat itu kepada anak-anak kita? Pernahkah kita bertanya, "Nak, apakah kamu sudah shalat Subuh?" dengan nada yang sama khawatirnya ketika kita bertanya, "Nak, apakah nilai matematikamu bagus?" Jangan sampai kita sukses mencetak anak yang brilian secara akademik, namun mereka lupa cara membaca Al-Qur'an dan enggan bersujud kepada Allah.



Jamaah sekalian,

Rumah adalah madrasah pertama, dan ayah adalah kepala sekolahnya. Mulailah kembali menghidupkan majelis ilmu di dalam rumah kita sendiri. Ajaklah istri dan anak-anak berjamaah shalat, bacakan sirah nabawiyah (kisah para nabi) sebelum mereka tidur, dan jadilah teladan (role model) yang baik. Karena anak-anak adalah peniru ulung; mereka mungkin tidak selalu mendengar ucapan kita, tetapi mereka pasti akan meniru apa yang kita perbuat.



Semoga Allah SWT menguatkan pundak para pemimpin keluarga, memberikan kita kesabaran dalam mendidik anak dan istri, serta mengumpulkan kita kembali di dalam surga-Nya kelak dalam keadaan utuh tanpa kurang satu pun anggota keluarga kita. Amin ya Rabbal 'Alamin.



Baarakallahu lii wa lakum fil qur'aanil 'azhiim, wa nafa'anii wa iyyakum bimaa fiihi minal aayaati wa dzikril hakiim. Aquulu qawlii haadzaa wa astaghfirullaha lii wa lakum, fastaghfiruuhu innahu huwal ghafuurur rahiim.







KHUTBAH KEDUA



Alhamdulillahi ‘alaa ihsaanihi wa syukru lahu ‘alaa taufiiqihi wa imtinaanihi. Wa asyhadu an laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariikalahu ta’zhiiman lisya’nihi, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu ad-daa’ii ilaa ridhwaanihi. Allahumma shalli ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aalihi wa ash-haabihi wa sallim tasliiman katsiiraa.



Ammaa ba’du. Fayaa ayyuhannas, ittaqullaha fiimaa amara, wantahuu ‘ammaa nahaa ‘anhu wa hazara. Innallaha wa malaa’ikatahu yushalluuna ‘alan nabi, yaa ayyuhalladziina aamanuu shalluu ‘alaihi wa sallimuu tasliimaa.



Allahummaghfir lil mukminiina wal mukminaat, wal muslimiina wal muslimaat, al-ahyaa'i minhum wal amwaat. Ya Allah, ampunilah dosa kami dan dosa kedua orang tua kami. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami di waktu kecil.



Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (qurrata a'yun), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Berikanlah kami kelembutan dalam mendidik, dan jagalah keluarga kami dari fitnah dunia, pergaulan bebas, dan siksa api neraka.



Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa 'adzaaban naar.



'Ibaadallah, innallaha ya'muru bil 'adli wal ihsaan wa iitaa'i dzil qurbaa wa yanhaa 'anil fahsyaa'i wal munkari wal baghyi, ya'izhukum la'allakum tadzakkaruun. Aqimish shalaah.

Bagikan Kebaikan Ini

Diskusi Hikmah 0

Belum ada diskusi.

i

Maklumat

Konten disusun untuk dakwah. Jika menemukan gambar atau teks yang kurang berkenan, mohon gunakan fitur Lapor agar dapat kami perbaiki. Jazakumullah khairan.